Bagi kita yang sangat membutuhkan pertolongan Allah, saat ini menjelang
bulan suci Ramadan, bulan diijabah doa-doa, bulan dipenuhinya dengan
berbagai pertolongan Allah SWT. Lalu, seperti apa semestinya kita bisa
menjadi orang yang layak ditolong Allah.
Hati begitu tunduk, patuh, penuh takut, dan sangat mengharap sesuatu kepada selain Allah SWT, itu namanya illah. Tidak jarang kita menuhankan diri sendiri. Ungkapan seperti 'saya bisa', 'saya mampu', 'saya berpengalaman', 'semuanya ada dalam pengetahuan saya', itu tidak tepat. Jika mengatakannya hingga tingkat keyakinan bahwa tidak ada yang bisa melakukan sesuatu selain dirinya, maka itu juga sudah termasuk illah.
Memang benar, kita telah diberi beberapa kemampuan. Tapi, tidak boleh melupakan Allah sebagai sumber kemampuan. Kita berpengalaman, boleh saja. Hanya saja kalau sampai yakin bahwa yang mampu menyelesaikan masalah adalah pengalaman kita, itu tidak benar. Harus yakin yang menyelesaikan masalah hanyalah Allah.
Kalau Allah sudah menolong, maka semua urusan akan lancar. Tugas kita sekarang adalah memposisikan diri jadi orang yang layak ditolong Allah.
Kalau dituntun Allah, urusan akan jauh lebih ringan, lebih tentram, efektif, dan efisien. Sungguh berbahagia orang yang dipikirannya hanya untuk mengharap ridha Allah. Orang mau dekat atau jauh, suka atau tidak, tidak masalah, yang penting Allah suka.
Kalau ada masalah, jangan sibuk menyelesaikan masalah dengan mengandalkan kemampuan diri. Kalau ada masalah, terus pikirkan apa yang salah dalam diri kita sehingga ditimpa masalah. Yang kedua, pikirkan bagaimana supaya kita ditolong Allah. Allah tahu persis bagaimana kita taubat, bagaimana kita bertawakal, dan nanti Allah yang menuntun.
Biarlah Allah menyelesaikan masalah dari tempat yang tidak diduga. Kita ikhtiar, tapi kita harus sudah benar-benar bertaubat. Iringi dengan tawakal yang benar. Kalau ikhtiar tanpa taubat dan ikhtiar tanpa tawakal, tidak ada artinya.
Kejadian apa pun harus membuat kita taubat kepada Allah. Karena setiap kejadian dirancamg oleh Allah agar kita menjadi dekat dengan-Nya. Dan yakin pun datang. Kalau kita sudah yakin, mantap, hati akan tenang, ajeg, tidak bingung. Kalau belum yakin, maka akan goyah. Islam itu disediakan supaya kita yakin kepada Allah. Semua perintah Allah tujuannya supaya kita yakin kepada-Nya.
Sehebat apapun ilmu Islam, tapi hatinya tidak yakin ke Allah, ilmu itu buat siapa? Sehebat apa pun ibadah, tapi hati tidak kenal kepada Allah, ibadah itu buat siapa?
Harusnya, ilmu dan ibadah membuat kita semakin membersihkan hati. Setelah itu, semakin yakin ke Allah. Banyak ibadah, banyak ilmu tapi hati tidak yakin, pasti taubatnya tidak benar, ujub, merasa diri benar, merasa diri mampu, atau menuhankan orang lain. Mudah-mudahan kita bisa menyelidiki hati kita dan tidak menuhankan diri sendiri atau pun orang lain.
KH. Abdullah Gymnastiar
*Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, dan Pendiri dan Pembina DPU Daarut Tauhiid*
Sumber : detikRamadhan
Hati begitu tunduk, patuh, penuh takut, dan sangat mengharap sesuatu kepada selain Allah SWT, itu namanya illah. Tidak jarang kita menuhankan diri sendiri. Ungkapan seperti 'saya bisa', 'saya mampu', 'saya berpengalaman', 'semuanya ada dalam pengetahuan saya', itu tidak tepat. Jika mengatakannya hingga tingkat keyakinan bahwa tidak ada yang bisa melakukan sesuatu selain dirinya, maka itu juga sudah termasuk illah.
Memang benar, kita telah diberi beberapa kemampuan. Tapi, tidak boleh melupakan Allah sebagai sumber kemampuan. Kita berpengalaman, boleh saja. Hanya saja kalau sampai yakin bahwa yang mampu menyelesaikan masalah adalah pengalaman kita, itu tidak benar. Harus yakin yang menyelesaikan masalah hanyalah Allah.
Kalau Allah sudah menolong, maka semua urusan akan lancar. Tugas kita sekarang adalah memposisikan diri jadi orang yang layak ditolong Allah.
Kalau dituntun Allah, urusan akan jauh lebih ringan, lebih tentram, efektif, dan efisien. Sungguh berbahagia orang yang dipikirannya hanya untuk mengharap ridha Allah. Orang mau dekat atau jauh, suka atau tidak, tidak masalah, yang penting Allah suka.
Kalau ada masalah, jangan sibuk menyelesaikan masalah dengan mengandalkan kemampuan diri. Kalau ada masalah, terus pikirkan apa yang salah dalam diri kita sehingga ditimpa masalah. Yang kedua, pikirkan bagaimana supaya kita ditolong Allah. Allah tahu persis bagaimana kita taubat, bagaimana kita bertawakal, dan nanti Allah yang menuntun.
Biarlah Allah menyelesaikan masalah dari tempat yang tidak diduga. Kita ikhtiar, tapi kita harus sudah benar-benar bertaubat. Iringi dengan tawakal yang benar. Kalau ikhtiar tanpa taubat dan ikhtiar tanpa tawakal, tidak ada artinya.
Kejadian apa pun harus membuat kita taubat kepada Allah. Karena setiap kejadian dirancamg oleh Allah agar kita menjadi dekat dengan-Nya. Dan yakin pun datang. Kalau kita sudah yakin, mantap, hati akan tenang, ajeg, tidak bingung. Kalau belum yakin, maka akan goyah. Islam itu disediakan supaya kita yakin kepada Allah. Semua perintah Allah tujuannya supaya kita yakin kepada-Nya.
Sehebat apapun ilmu Islam, tapi hatinya tidak yakin ke Allah, ilmu itu buat siapa? Sehebat apa pun ibadah, tapi hati tidak kenal kepada Allah, ibadah itu buat siapa?
Harusnya, ilmu dan ibadah membuat kita semakin membersihkan hati. Setelah itu, semakin yakin ke Allah. Banyak ibadah, banyak ilmu tapi hati tidak yakin, pasti taubatnya tidak benar, ujub, merasa diri benar, merasa diri mampu, atau menuhankan orang lain. Mudah-mudahan kita bisa menyelidiki hati kita dan tidak menuhankan diri sendiri atau pun orang lain.
KH. Abdullah Gymnastiar
*Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, dan Pendiri dan Pembina DPU Daarut Tauhiid*
Sumber : detikRamadhan
